A Bit of Me

PhotoGrid_1429112452011

As an INTJ, it is well known that I am amazingly curious about things. Do not misinterpret because I am also an effective person, as I refuse to be called a procrastinator. I sometimes can be annoying for I am quite lack of common sense, I don’t do a lot of small talks and I am frank with my opinions and ideas. My words can be harsh at times, but believe me, I don’t mean to hurt anyone. Now and again it just means that I am trying to know you better.

Advertisements

Mahasiswa – Atas Nama Rakyat Indonesia

Setiap orang mempunyai hak untuk mengatur hidupnya sendiri, memilih untuk dirinya sendiri. Mereka memiliki hak untuk berbuat, bersikap, berpendapat, memberi kritik, maupun berpikir. Setiap orang berhak melakukan apapun yang diinginkannya, tetapi apakah pilihannya bermanfaat, membangun, menginspirasi ataukah hanya untuk keagungan dan kepentingan pribadi?

Di media sosial belakangan ini banyak bertebaran tulisan-tulisan yang mengkritik mahasiwa. Misalnya saja kritik pedas udayusuf untuk mahasiswa di twitternya pada tanggal 13 Maret 2015 ataupun tulisan pada https://mannurhakim04.wordpress.com/2015/03/17/masih-tentang-aksi/ .

Apakah bijak seseorang mengecam mahasiswa yang tidak turun ke jalan dengan mengatakan mahasiswa tersebut individualis, egois, dan apatis karena menurutnya mahasiswa tidak lagi beraksi untuk negeri dan mengkritik kebijakan pemerintah? Definisikan aksi. Apakah aksi selalu berarti turun ke jalan, menjeritkan keresahan masyarakat di depan muka pejabat pemerintah? Apa itu satu-satunya cara menyampaikan aspirasi?

Pilihan seseorang akan aksi yang dilakukannya tidak dapat dibilang benar atau salah. Tiap individu memiliiki pemikirannya sendiri dan sebagai manusia kita seharusnya saling menghargai pendapat satu sama lain. Hal ini sesungguhnya tidak berbeda dengan pilihan tiap orang akan agamanya. Dalam Pancasila sila pertama tertulis Ketuhanan Yang Maha Esa, dan dalam UUD 1945 tercantum bahwa tiap-tiap orang bebas memeluk agamanya masing-masing. Jika WNI saja bebas memeluk agamanya, mengapa mahasiswa tidak dapat menentukan sendiri jenis aksinya tanpa ada kecaman dari luar?

Apakah anda misalnya sebagai pemeluk agama tertentu ingin mendengar saya mengatakan bahwa agama anda itu salah dan hanya agama saya saja yang akan membawa anda kepada kebenaran? Tentu tidak kan? Saya juga tidak mau mengatakan agama anda salah, karena saya tidak ingin anda mengomentari apapun mengenai agama saya. Treat people the way you want to be treated. Pernah dengar istilah itu? Lagipula, orang-orang yang diperlukan untuk memperbaiki negeri ini adalah orang-orang yang teguh pendiriannya, orang-orang yang tidak akan goyah hanya karena ada celaan dari orang lain. Jika orang-orang seperti itu sudah menentukan sikapnya, tidak ada cara untuk menariknya melakukan hal-hal yang tidak ia inginkan. Why waste your energy and annoy others?

Ada begitu banyak cara yang lebih efektif dan efesien untuk menyatakan aspirasi. Aksi dapat berupa apa saja. Apakah anak-anak Indonesia yang berjuang mati-matian mengikuti, misalnya olimpiade Sains atau Model United Nations tidak layak dikatakan telah berkontribusi untuk negeri, beraksi untuk memajukan Indonesia? Baiknya definisi tentang aksi tidak diartikan atau malah diindentikkan dengan turun ke jalan.

Begitu banyak orang menjunjung dan memandang tinggi aksi turun ke jalan ini karena keangkuhan yang telah lama melekat dalam kata mahasiswa. Kata mahasiswa seperti dilekatkan dengan turun ke jalan. Saya cukup yakin hal ini ada kaitannya dengan digulingkannya Soeharto ‘oleh mahasiswa’ pada zaman Orde Baru. Benarkah mahasiswa yang menurunkan Soeharto? Kembali menurut saya, tidak mungkin mahasiswa menjadi satu-satunya alasan seorang presiden turun dari singgasananya. Jika ia memang bermaksud mempertahankannya, apa yang tidak mungkin baginya jika lawannya mahasiswa. Begitu banyak faktor dan analisis tentang turunnya Soeharto, mengapa mahasiswa dengan angkuhnya mengklaim hal ini sebagai hasil kerja mereka?

Tiap kali mahasiswa turun ke jalan, mahasiswa mengatakan untuk membela masyarakat. Tapi benarkah yang menggerakan mereka adalah niat membela masyarakat? Mungkin begitu untuk beberapa orang, tetapi bagaimana beberapa orang lainnya? Menurut saya, orang-orang kebanyakan, tidak semua, melakukan aksi hanya untuk dirinya sendiri. Mungkin bukan untuk kemahsyuran namanya, tetapi untuk pencitraan golongannya, almamaternya, atau apapun yang berkaitan dengan dirinya.

Berkali-kali mahasiswa memandang masyarakat sebagai kaum lemah, kaum yang tertindas, kaum yang tidak mampu menyampaikan aspirasinya. Tetapi siapa kita yang berani-beraninya menganggap diri kita lebih tinggi dari masyarakat dan menjadikan mahasiswa sebagai pahlawan untuk masyarakat? Mahasiwa tidak berbeda dengan masyarakat. Mengapa kita meletakkan kelas mahasiswa di atas masyarkat? Apa karena mahasiswa-mahasiswa perguruan tinggi di zaman dulu selalu menyalurkan ilmunya ke masyarakat? Nope. Saya tidak setuju. Mahasiswa bukan menyalurkan ilmunya kepada masyarakat, tetapi mahasiswa yang awalnya adalah masyarakat kembali lagi menjadi masyarakat. Jadi apa itu mahasiswa? Hanya beberapa masyarakat yang mempunyai komunitas yang disebut universitas. Mahasiswa tidak lebih superior dari masyarakat Indonesia.

Apakah saya sedang mengatakan masyarakat tidak perlu dibela? Tidak. Saya sedang mengatakan mahasiswa sering mengatasnamakan masyarakat untuk mencapai kepentingannya sendiri. Mahasiswa adalah masyarakat itu sendiri. Untuk apa mengatasnamakan masyarakat? Saya melihat ini sebagai fenomena yang sangat aneh. Mengapa tidak melakukan aksi dan mengatakannya untuk diri kalian sendiri? Oke. To be fair, mungkin memang ada untuk masyarakat, tetapi hal yang sedang dibela itu tentu akan mengusik kehidupan mahasiswa juga bukan?

Mungkin yang dapat diterima dari penjabaran saya adalah masalah penggunaan kata saja. Mungkin bagi anda terlihat sepele, tapi bagi saya penggunaan kata adalah hal yang cukup krusial. Saya sungguh mengharapkan konsistensi dari penggunaan kata mahasiswa dan masyarakat. Jika mahasiswa membela masyarakat, seharusnya tidak ada kepentingan-kepentingan mahasiswa itu sendiri. Tetapi apakah mungkin? Tidak, karena mahasiswa adalah masyarakat itu sendiri sehingga kepentingan mahasiswa juga termasuk di dalamnya. Lalu mengapa repot memasukkan ‘demi masyarakat’ di dalam tiap aksinya? Karena mahasiswa menganggap dirinya lebih tinggi dari masyarakat dan merasa perlu membela masyarakat yang lemah tersebut. Saya sangat terusik dengan hal ini, mengapa harus mencantumkan kata untuk masyarakat seolah-olah mahasiswa tidak seharusnya melakukan hal tersebut, tetapi ia rela melakukannya.

Ada baiknya mahasiswa melihat kembali ke dalam dirinya sebelum melakukan aksi, apakah hanya sekedar pencitraan atau memang tulus bergerak untuk kebaikan negeri. Jangan sampai mahasiswa yang sering mengatai para pejabat pemerintahan atau politisi yang kerjanya hanya pencitraan ternyata juga merupakan bagian dari pencitraan mahasiswa itu sendiri.

Sebagai contoh, pernah saya diberi permasalahan, yaitu dicabutnya subsidi peruguruan tinggi. Saya dan teman-teman diminta untuk memberi sikap dan melakukan aksi setelah berdiskusi selama 30 menit. Saya setuju dengan pencabutan subsidi alasannya karena sebagai mahasiswa seharusnya kita sudah cukup dewasa untuk mampu menyelesaikan permasalahan kita sendiri. Di perguruan tinggi ada begitu banyak beasiswa disediakan, hanya niat yang dieperlukan untuk mencarinya. Tetapi bagaimana dengan anak-anak Indonesia yang bahkan SMA saja tidak mampu? Bagi saya lebih baik jika subsidi perguruan tinggi disalurkan ke anak-anak SMA terlebih dahulu. Bagaimana mereka akan melanjutkan ke perguruan tinggi kalau SMA saja tidak lulus, atau bahkan SMP dan SD. Bukannya saya menyetujui pencabutan subsidi, tetapi jika sudah terpojok apa boleh buat. Drastic times call for drastic measures. 

Sebagian besar orang akan menolak keras kebijakan tersebut dan bersikukuh subsidi untuk tidak dicabut. Oke. Saya mengakui memang permasalahan yang diberikan tidak lengkap, tidak ada sebab mengapa dilakukan pencabutan sehingga diskusi menjadi tidak tepat sasaran. Namun, mengapa sebagian besar orang bersikeras mempertahanakan subsidi perguruan tinggi meski saya sudah mencoba memberikan asumsi? Saya melihat ini sebagai bentuk perilaku orang-orang yang melakukan sesuatu karena penyebab yang sebenarnya akan memengaruhi kehidupan mereka dan akhirnya diambil suatu aksi dengan mengatasnamakan masyarakat.

Banyak sekali orang yang menyindir mahasiswa sekarang ini, tetapi dengan kalimat seperti “saya iri dengan aktivis-aktivis senior yang turun ke jalan, yang argumen dan kritik-kritik pedasnya masih diingat media dan banyak orang,” bukankah malah tampak bahwa yang dijadikan tujuan akhirnya bukan untuk masyarakat tetapi kemahsyuran diri atau kelompoknya?

Jadi, sebenenarnya apa yang Indonesia butuhkan saat ini? Aksi yang tidak pernah berhenti dari mahasiswa ataukah orang-orang yang paham dan mengerti betul apa yang ia perjuangkan? Menjadi mahasiswa bagi saya berarti waktunya untuk meningkatkan kualitas diri, baik dari segi akademis maupun karakter untuk mempersiapkan diri menjadi agen-agen perubahan Indonesia kelak. Apa iya Indonesia mau memiliki generasi yang ternyata untuk memperjuangkan nilainya saja ia tidak mampu?

Mahasiswa tidak harus turun ke jalan hanya untuk mencari pembuktian dirinya sebagai mahasiswa. Lebih baik membangun diri sendiri saat ini agar ketika lulus nanti kita bisa menjadi orang yang membangkitkan Indonesia. Zaman ini bukan zaman kita. Zaman kita belum dimulai. Sekarang bukan waktunya kita sibuk adu unjuk diri, sekarang waktunya kita sibuk memperbaiki diri, waktunya kita melakukan kesalahan sebanyak-banyaknya karena ini adalah tahap akhir kesalahan kita tidak akan berakibat fatal.

NB : Dari beberapa tulisan yang pernah ada, saya justru lebih menyukai balasan yang dibuat untuk udayusuf http://ganecapos.com/2015/03/mens-agitat-molem-ridwansyah-yusuf/ . Tulisan balasan itu bagi saya jauh lebih menginspirasi dan membakar jiwa kemahasiswaan.

Kalau pemerintah tidak menghiraukan kita, kenapa bukan kita yang menjadi pemerintah?


Riana Halim

Bandung, 21 Maret 2015

Indonesia : Tidak Bisa Habis?

Akhir-akhir ini berita yang ramai dibicarakan adalah mengenai Presiden RI ke-7, Joko Widodo yang berniat menaikkan harga BBM bersubsidi. Rencana ini bukannya tidak dipertimbangkan terlebih dahulu, tetapi mungkin memang menaikkan harga BBM adalah cara yang paling mudah dan sederhana untuk menghemat APBN yang isunya berpotensi jebol menurut Presiden Jokowi dan perangkat negara lainnya. Seharusnya, biaya yang digunakan untuk mensubsidi BBM selama ini dapat dialokasikan ke sektor lain yang selama ini terbengkalai karena kurangnya dana seperti pembangunan infrastruktur, kesehatan, pendidikan serta pertumbuhan ekonomi yang stagnan. Subsidi BBM memang sudah sering diberitakan menyedot anggaran dengan jumlah yang cukup signifikan sehingga menghambat kerja pemerintah. Selain itu, subsidi yang diberikan selama ini sudah tidak tepat sasaran karena lebih banyak dinikmati oleh kendaraan-kendaraan pribadi yang mayoritas berasal dari kaum menengah ke atas.

Rencana ini menimbulkan banyak pro kontra dalam masyarakat Indonesia yang daya belinya masih rendah. Masyarakat panik akan kenaikan harga BBM karena kenaikannya pasti akan berdampak kepada inflasi. Inflasi menyebabkan harga-harga bahan pokok melonjak dan tidak terjangkau oleh rakyat menengah ke bawah sehingga tingkat kemiskinan juga akan meningkat. Masalah ini sebenarnya bukannya tidak wajar jika kita melihat jauh ke belakang, jauh sebelum Indonesia merdeka, sebelum Indonesia lepas dari penjajahan kolonialisme.

Kedatangan orang-orang Belanda yang membentuk perkumpulan dagang VOC pada tahun 1602 berakhir menjadi invasi meski awalnya mereka hanya ingin berdagang. Sampai tahun 1705, diketahui VOC telah membuat 111 perjanjian dengan kerajaan Mataram. Kerajaan Mataram atau disebut juga Kesultanan Mataram adalah kerajaan berbasis Islam yang saat itu berkuasa di tanah Jawa dan sekitarnya. Di masa itu, adalah Van Hohendorff yang berperan sebagai penasehat Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Gustaaf Willem Van Imhoff. Van Hohendorff menjadi perantara antara Pemerintahan kolonial dengan Kesultanan Mataram yang saat itu dipimpin oleh Sri Susuhunan Paku Buwono II. Kedekatannya dengan Sri Susuhunan membuatnya memiliki posisi penting dalam Kesultanan Mataram. Sudah tidak terhitung lagi banyaknya kebijakan Sri Susuhunan yang dibuat dibawah pengaruh Van Hohendorff. Pernah juga sebuah pemberontakan menyebabkan Sri Susuhunan menyelamatkan diri ke Ponorogo, tetapi Van Hohendorff meminta pemerintahan kolonial untuk merebut kembali ibu kota Mataram dari tangan para pemberontak. Sri Susuhan dengan senang hati menerima kembali kerajaannya meski itu berarti Mataram terikat kontrak politik dengan Belanda. Campur tangan pemerintahan Belanda meliputi pengangkatan patih dan bupati serta larangan pembuatan perahu sehingga sektor pelayaran menjadi monopoli pemerintah kolonial.

16 Desember 1749 Van Hohendorff yang sangat dekat dengan pemimpin Kesultanan Mataram berhasil mendapatkan tanda tangan Sri Susuhunan yang sakit keras mengenai penyerahan Kesultanan Mataram kepada pihak Belanda, dengan syarat hanya keturunan Sri Susuhunan yang dapat naik takhta dan mendapat hak “peminjaman” Mataram. Peristiwa ini merepresentasikan keadaan Indonesia saat ini yang tidak dapat menikmati hasil dari sumber daya alamnya sendiri. Untuk menikmati kekayaannya, Indonesia harus bersusah payah bernegosiasi dengan pihak-pihak yang terikat kontrak. Setiap perubahan yang diambil harus disetujui oleh perusahaan yang berkuasa di daerah tersebut. Malahan bisa disebut, Indonesia sudah dikuasai oleh asing karena banyaknya perusahaan-perusahaan negara lain yang menduduki area-area yang menjadi sumber daya alam di indonesia.

Screen Shot 2014-11-14 at 9.27.13 PM

Sudah berabad-abad lamanya Indonesia dieksploitasi oleh pihak asing, naif agaknya kalau kita berpendapat kekayaan Indonesia tidak bisa habis. Jika dilihat dari kenyataannya, kekayaan Indonesia pasti akan habis sebelum rakyat Indonesia sendiri dapat merasakan jika terus-menerus seperti ini. Seperti sekarang contohnya, harga BBM terus menanjak karena hasil minyak bumi dan gas alam kita dinikmati negara-negara maju yang jauh lebih sedikit sumber daya alamnya. Sesungguhnya, kita memperkaya pihak asing tanpa mendapat imbalan yang sesuai. Seharusnya Indonesia tetap mengambil kebijakan seperti Soekarno di masa pemerintahannya yang hanya membuka 25% dari kapasitas SDA Indonesia, karena ia menyadari kekayaan Indonesia adalah hak rakyat Indonesia sendiri. Bung Karno selalu menolak dibukanya area-area pertambangan, perminyakan, maupun hasil-hasil alam lainnya. “Biarlah kita menunggu sampai Indonesia memiliki insinyur-insinyur sendiri,“ begitu katanya.

Di tahun 1967, Soekarno yang turun dari jabatannya sebagai presiden digantikan oleh Soeharto. Segera setelah Soeharto menjabat, ia mengadakan konferensi besar di Geneva, Swiss. Dalam konferensi tersebut diadakan konsensi dagang antara pemerintah Indonesia dengan perusahaan-perusahaan kapitalis paling berkuasa di dunia seeprti David Rocklefeller, General Motors, Imperial Chemical Industries, British American Tobacco, Bristish Leyland, American Express, Goodyear, Siemens, US Steel, International Paper Corporation, AT & T, Caltex, perusahaan minyak, perbankan dan industri pertambangan lainnya. Hanya dalam 3 hari saja kekayaan Indonesia dijual habis oleh pemerintah Indonesia sendiri.

Sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan sejak dulu untuk mengubah keadaan ini. Misalnya saja dengan pemutusan atau pembaruan kontrak dengan perusahaan-perusahaan yang merugikan negara seperti Freeport yang hanya memberi rakyat Indonesia 3% untuk hasil tambang dan 1% untuk emas dari hasil yang di dapat. Jika pemerintah Indonesia tidak berani mengambil langkah yang signifikan, apapun resikonya, entah akan seperti apa Indonesia kedepannya. Indonesia mungkin saja tidak akan pernah bisa menyeimbangkan kapasitasnya dengan negara-negara Asia lainnya yang mulai berkembang, karena sumber dayanya sudah pasti habis sebelum rakyat Indonesia dapat menikmatinya. Sampai kapan Indonesia mau dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang hanya mementingkan keuntungannya pribadi? Meningkatkan usaha ketahanan energi nasional dengan merenegosiasi kontrak dan mengembalikan blok-blok tersebut kepada perusahaan nasional adalah langkah yang harus direalisasikan demi kehidupan banga Indonesia yang sejahtera, untuk masa ini dan masa generasi-generasi selanjutnya.

source : blog.imanbrotoseno.com


Riana Halim

Bandung, 14 November 2014

Cerpen : Ayahku Bukan Penjahat

Cerpen yang gue tulis tanggal 26 Februari 2013. Cerpen yang entah kenapa berbekas di ingatan gue sampai sekarang 🙂


               Aku mau menjadi tentara. Kata nenek, ayah pergi dengan para tentara untuk membela negara. Membela negara? Aku juga mau. Naik mobil hebat, mengejar penjahat, pakai baju keren, membela negara. Terdengar cukup keren untukku. Tetapi lebih dari itu, aku ingin bertemu ayah. Kalau aku menjadi tentara, bukankah aku akan bertemu dengan ayah lagi? Aku yakin ayah sedang menungguku bersama orang itu.

               Terakhir aku melihat ayah adalah hari itu. Hari itu berada dalam sebuah minggu yang cukup menyenangkan, tetapi minggu itu berada dalam sebuah bulan yang sungguh melelahkan. Sudah hampir sebulan aku dan ayah berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah yang lain. Dari rumah nenek, rumah paman, rumah teman-teman ayah sampai rumah teman baikku.

               Bulan itu sungguh melelahkan karena aku dan ayah terus berpindah. Aku tidak tahu kenapa ayahku sangat kreatif seperti ini tapi mungkin ini hadiah dari ayah untukku yang terus merengek untuk diajak berpetualang karena aku berhasil mendapat nilai 100 dalam ulangan Matematikaku kemarin. Mungkin. Aku hanya berasumsi. Aku tidak mau bertanya pada ayah. Kalau aku bertanya, tidakkah kesenangan dalam menanti kejutan-kejutan itu akan hilang?

               Nah, minggu itu cukup menyenangkan karena aku dan ayah sedang singgah di rumah temanku. Seru sekali, sungguh. Ini seperti mendapat saudara baru. Atau mungkin ini menyenangkan karena semua ini hanya sesaat, karena kata ayah manusia itu tidak pernah puas. Mungkin ini menyenangkan karena temanku bukanlah saudaraku. Kalau aku memiliki saudara, akankah aku berharap untuk menjadi anak tunggal saja seperti sekarang?

            Minggu itu ayah memutuskan aku sudah lelah berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya sampai akhirnya aku dititipkan pada nenek dan ayah melanjutkan petualangannya, seorang diri. Tanpa aku. Tidak berapa hari, datang seorang tentara dengan pakaiannya yang keren dan mobilnya yang hebat menanyakan keberadaan ayah. Aku dan nenek tidak tahu kemana ayah pergi, tetapi nenek menyuruhku masuk ke dalam rumah karena ia ingin berbicara dengan tentara itu. Aku masuk ke dalam rumah dan percakapan mereka tidak terdengar lagi.

               Ah! Aku tahu. Tentara itu pasti mencari ayah untuk mengajaknya membela negara bersama. Ayahku bukan penjahat.


Riana Halim

Bandung, 30 September 2014

An Abuse of Power

Akhir-akhir ini banyak yang mengganggu pikiran saya. Berhubung di Tanah Air kita akan diadakan pemilihan umum presiden dan wakil presiden dalam bulan-bulan ini dan baru saja diadakan pemilihan anggota legislatif, banyak pertanyaan yang berseliweran di benak saya mengenai negara ini, mengenai pemimpin-pemimpinnya dan mengenai budayanya yang sepertinya sudah berakar terlalu dalam. Banyak orang sepertinya sudah kehilangan kepercayaan pada pejabat-pejabat negeri ini yang katanya akan mewujudkan mimpi-mimpi para leluhur kita, mimpi kita, menjadikan Indonesia sebuah negara yang dapat menyejahterakan rakyatnya. Tetapi nyatanya, setelah rakyat semua memercayakan suara mereka diwakili para pejabat tersebut, yang mereka lakukan bukanlah mewujudkan mimpi bangsa Indonesia, tetapi mimpi mereka sendiri. Apa yang menjadi milik rakyat diklaimnya menjadi milik pribadi. Jika akhirnya rakyat tidak terwakilkan suaranya, apa guna wakil rakyat? Beberapa tahun belakangan marak terdengar gencarnya aksi KPK menangkap para pelaku korupsi, baik dari golongan pejabat, partai, pemimpin negara, dan lainnya. Begitu banyaknya yang tersandung kasus korupsi sehingga acara talk show favorit saya di sebuah saluran televisi nasional menayangkan kegiatan sang pembawa acara ketika berkunjung ke lapas-lapas yang dihuni para koruptor yang tertangkap. Ketika sang pembawa acara memasuki kamar seorang koruptor, si koruptor justru marah-marah ke semua orang yang datang (sang pembawa acara dan para kru acara) dan bertanya mengapa mereka datang mengganggunya, memangnya belom cukup ia menderita di lapas itu, tidak dapat bertemu istri anaknya, dipermalukan, dibekukan asetnya dan lain sebagainya. Bukankah sangat aneh perilaku si koruptor? Mungkin dia sudah kehilangan akal sehatnya? Entahlah. Yang pasti, si koruptor sama sekali tidak menyesali perbuatannya. Yang ia sesali adalah ia tertangkap melakukan korupsi. Saya merasa sangat sebal melihat reaksinya, tetapi si pembawa acara sangat tenang dan dapat merespon si koruptor dengan amat sangat baik sampai pada tahap yang juga menyebalkan. Dari pandangan saya, sudah selayaknya si koruptor itu dipenjara. Apa yang ia tabur, itulah yang ia tuai. Bahkan jika dipikir lagi, mungkin sebenarnya hukuman bagi para koruptor itu tidak setimpal dengan perbuatan mereka. Bayangkan, dengan mengorupsi uang negara yang notabene adalah dari rakyat dan untuk kesejahteraan rakyat, sudah berapa banyak orang yang mati karena perbuatan mereka? Berapa banyak keluarga yang tidak dapat memiliki penghidupan yang layak? Berapa banyak anak yang tidak dapat bersekolah? Bagaimana mungkin kerugian sebanyak itu setimpal dengan hukuman yang hanya berupa masa tahanan beberapa tahun kemudian si koruptor bebas berkelana dan memiliki hidup yang lebih baik? Entah bagaimana konstitusi bekerja, sungguh sulit dimengerti. Bukannya saya menyarankan hukuman mati atau semacamnya, tetapi saya rasa si koruptor berhutang nyawa pada bangsa ini. Sampai matipun, perbuatannya tidak akan tertebus dengan apapun yang coba ia lakukan. Tidakkah kita berhak atas permintaan maaf dari mereka? Setidaknya tunjukkanlah rasa penyeselan, dan bukannya berlaku seperti korban, seolah-olah merekalah yang sudah dizolimi bangsa ini. Yang menjadi pertanyaannya adalah, mengapa tetap melakukan korupsi padahal sudah banyak contoh pelaku korupsi yang ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Apakah mereka sungguh percaya dapat menyimpan rahasia itu selamanya? Bukankah seharusnya mereka sadar, there is no such thing as a secret? Pada akhirnya kebenaran akan terungkap, tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan, karena begitulah hukum alam. Dalam tahap ini saya cukup yakin para pelaku korupsi terlalu berpikiran pendek dan jatuh karena ambisinya yang tidak terarah. Mereka mengorbankan segala kekuasaan, kekayaan, keluarga dan apapun yang dimilikinya hanya untuk memiliki lebih. Tidakkah mereka semua pernah mendengar cerita tentang anjing yang membawa tulang, tapi kemudian ia mati tenggelam karena ketamakannya ketika melihat cerminan dirinya di sungai? Begitu tamaknya sampai-sampai anjing itu ingin merebut tulang yang dikiranya milik anjing lain, padahal dia sudah memiliki jatahnya? It wanted more, and it had lost what it had. Begitu pula dapat diaplikasikan moral cerita itu dalam kehidupan manusia. Tidakkah memiliki jatahnya saja sudah cukup? Apa harus juga mengambil milik orang lain? Untuk apa kekayaan yang melimpah ruah? Memangnya apa yang ingin dibeli dengan kekayaan sebanyak itu? Saya rasa di dunia ini tidak terlalu banyak hal yang bisa dibeli dengan uang sebanyak itu. Apa perlu memiliki kekayaan yang sepertinya tidak bisa habis? Pemikiran-pemikiran itu kemudian berkembang menjadi pertanyaan lain. Bagaimana mereka dapat mengajarkan dan berharap orang-orang lain berlaku jujur, sedangkan mereka sendiri tidak jujur? Bukankah itu juga aneh? Mereka tidak ingin ditipu tetapi ingin menipu. What are they really expecting? Saya percaya perilaku mereka suatu hari akan kembali kepada mereka sendiri because karma does exist. ‘Jika tidak ingin diperlakukan dengan buruk, jangan memperlakukan orang lain dengan buruk’ sesungguhnya adalah sebuah nasihat yang sederhana tetapi nyatanya sangat sulit direalisasikan.

We are what we repeatedly do. Excellence then, is not an act, but a habit. – Aristotle


Riana Halim

Jakarta, 13 Mei 2014

A Whole New Chapter

Hello fellows. My first post, might not be very intriguing for you, but I’m still writing this anyway.

First of all, let me introduce myself. My name is Riana and I am 19 years old this year. Being born as a younger sister of my brother made me not very effeminate or even dainty. Due to some stupid reasons, I was raised as a boy. By raised as a boy, I refer to what games I played with my brother and how the whole family dressed me. Not really a big deal, but it defined who I am now.

I just finished my national exam 2 days ago and I’m literally doing nothing at this very moment. I’ve spent two years and a half in senior high school and it finally comes to an end. “If I recall to my first day as a high school student, I can’t believe that I will graduate soon. I definitely will miss my friends, teachers and even the security guards. Time flies too fast.” If you expect me to say such clichés, maybe you do not know me. It does not mean I won’t miss my friends or anything. I will and I also agree that time flies so fast, although not too fast. Time flies as time usually flies. What can time do beside fly?

All my high school friends and I are now only a step apart from the real world. Actually, it kind of scares me and yet, it makes me wonder. “What is waiting for me out there?” “Will I be able to survive?” “Do people really take advantage of others in order to prosper their life?” “Is the world as dirty as what people have talked?” Well, I will let you know when I get there.

Therefore, before I get there, I will just enjoy, or pretend to enjoy, my last phase of being dependent. University is gonna be a whole new chapter of my life. New friends, new teachers, new environment, new schedules, new challenge, and the most important is a whole new attitude. At this time, I guess I can only cross my finger to get into the university I’ve dreamt of all along.


Riana Halim

Jakarta, 18 April 2014